Senin, 26 Oktober 2009

TUGAS 1

Pada suatu pagi, saya bersama teman-teman pergi ke sebuah majelis untuk mengikuti proses belajar-mengajar Bahasa Arab. Dengan penuh semangat kami bergegas tanpa menundanya sedikitpun untuk hal-hal lain. Ketika tiba di sana kami dengan sabar menunggu kedatangan sang guru. Namun setelah sekian lama menunggu, belum juga kunjung datang. akhirnya kami sepakat untuk kembali ke asrama masing-masing.

Adzan dhuhur berkumandang pada pukul. 12.00.WIB, saya, begitupun juga dengan yang lainnya bersiap-siap pergi ke kamar mandi karena mau berangkat ke sekolah. Pada hari itu kebetulan wali kelas kami mengajar pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas. Tak disangka wali kelas kami mengeluarkan pernyataan “ bahwa murid yang tidak mengikuti pelajaran Bahasa Arab tadi pagi akan mendapatkan hukuman, bagi laki-laki semuanya rambut di kepalanya harus dipotong habis tak tersisa. Dan bagi wanita harus mengambil batu dari sungai dengan jumlah seratus buah”. Kami semua berusaha untuk menjelaskan masalah tersebut namun wali kelas kami tetap tak menghiraukannya dengan alasan guru Bahasa Arab sudah datang namun tak ada seseorangpun yang hadir. Dengan berat hati kami semua yang laki-laki harus merelakan kehilangan rambutnya alias botak.

Kami dikumpulkan di suatu tempat untuk menjalani hukuman. Suara mesin pencukur rambutpun terdengar ditelinga. Satu demi satu mulai kehilangan rambutnya, termasuk saya yang mendapat giliran terakhir. Meskipun malu kami tidak boleh memakai penutup kepala bahkan peci sekalipun. Saya sering tertawa melihat kepala teman saya gundul, begitupun juga yang lainnya ketika melihat kepala saya. Apalagi kakak kelas dan adik kelas kami pasti selalu tertawa, ketika melihat sekumpulan orang-orang gundul yang berbaju putih dan bercelana abu-abu pergi berangkat sekolah secara berjamaa’ah, katanya seperti sekumpulan permen Polipop / mikropon yang bisa jalan sendiri.

Hal itu masih teringat dalam benak dan memang itu pengalaman yang lucu. Karena kepala kita bisa botak bareng-bareng. Saya masih bisa tertawa sampai saat ini, ketika melihat photo-photo yang terjadi pada masa dulu. Dan seingat saya itu terjadi pada hari rabu ketika baru menginjak kelas 1 SMA tahun 2005 di Cianjur.